Di artikel ini
Dari mana feng shui berasal
Feng shui berarti "angin dan air". Akarnya ada pada kebiasaan kuno di Tiongkok dalam memilih letak desa dan rumah: menghadap ke mana, di belakangnya ada apa, dan bagaimana udara serta air bergerak di sekitarnya. Orang dulu menyebut daya yang mengalir itu qi atau chi. Sains belum bisa mengukur qi, jadi aku mengajakmu memandangnya sebagai warisan budaya, bukan jaminan apa pun.
Di Indonesia, tradisi ini ikut dibawa komunitas Tionghoa sejak berabad-abad lalu dan kini dikenal luas, dari kelenteng sampai kompleks perumahan di kota besar. Banyak orang memakainya sekadar sebagai panduan agar rumah terasa lebih lega, dan itu sudah cukup bagus.
Cara memulai tanpa pusing
Mulailah dari satu ruangan saja, misalnya ruang tamu atau kamar tidur. Lima menit tiap malam untuk merapikan sudah cukup untuk melihat bedanya. Kamu tidak perlu kompas, tidak perlu membongkar tembok, dan tidak perlu membeli pernak-pernik mahal.
Urutan yang kusarankan: baca dulu tentang lima unsur supaya paham istilahnya, lalu peta bagua sebagai gambaran besar, kemudian lanjut ke pintu masuk, ruang tamu, kamar tidur, dapur, ruang kerja, dan kamar mandi. Halaman warna dan tanaman melengkapinya. Ada juga halaman khusus Bintang Terbang 2027 bagi yang ingin tahu tradisi tahunan menjelang Imlek.
Empat gagasan yang selalu muncul
Pertama, posisi komando: tempat tidur, meja kerja, atau kompor diletakkan agar kamu bisa melihat pintu tanpa berada tepat di garisnya. Kedua, barang menumpuk, yang dalam tradisi disebut qi tersendat dan dalam bahasa sehari-hari artinya barang yang bikin ruangan susah dipakai. Ketiga, cahaya dan udara: jendela bisa dibuka, lampu menyala, sudut tidak tersumbat. Keempat, keseimbangan antara yang lembut dan keras, terang dan teduh, ramai dan tenang.
Perhatikan bahwa keempatnya masuk akal bahkan tanpa percaya pada qi. Rumah yang lapang dan terang memang lebih enak ditinggali, baik di rumah tapak maupun apartemen mungil di Jakarta.
Menyesuaikan dengan hunian di sini
Iklim tropis dan kelembapan kita punya tantangan sendiri. Sirkulasi udara lebih penting daripada hiasan, dan tanaman yang dipilih sebaiknya yang betah di tempat teduh. Banyak orang tinggal di kos-kosan, kontrakan, atau apartemen kecil, jadi semua saran di sini bisa dilakukan hanya dengan menggeser perabot, membereskan, atau mengganti lampu.
Kalau rumahmu menghadap jalan raya, punya koridor panjang, atau pintunya berhadapan dengan tangga, jangan panik. Dalam tradisi ada banyak cara halus untuk meredamnya, misalnya tirai, tanaman, atau karpet, dan semuanya bisa dicoba pelan-pelan.
Tetap kritis, tetap boleh mencoba
Feng shui berada di antara saran desain interior dan kepercayaan turun-temurun. Aku tidak menjanjikan rezeki, jodoh, atau kesehatan lewat penataan rumah, dan sebaiknya kamu waspada pada siapa pun yang menjanjikannya sambil menjual benda mahal. Ukuran sederhananya: apakah ruangan jadi lebih terang, rapi, dan nyaman? Itu hasil yang bisa kamu lihat sendiri.
Anggap saja sebagai cermin untuk bercermin pada rumahmu, bukan pegangan hidup. Kalau ada saran yang membuatmu cemas, lewati saja.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah feng shui bertentangan dengan agama?
Aku memperlakukannya sebagai tradisi budaya Tionghoa tentang menata ruang, bukan ajaran agama. Kamu bebas mengambil bagian yang masuk akal dan melewatkan sisanya.
Perlu kompas atau konsultan untuk mulai?
Tidak. Saran di sini berawal dari pintu masuk dan hal-hal yang bisa kamu ubah sendiri, seperti merapikan, menggeser perabot, dan mengganti lampu.
Bisakah dipraktikkan di kos atau apartemen sewaan?
Bisa sekali. Semuanya hanya soal menata ulang, tanpa mengebor, mengecat, atau membongkar apa pun.
Apakah penataan rumah menjamin keberuntungan?
Tidak ada jaminan. Manfaat yang pasti terasa adalah rumah yang lebih rapi dan nyaman, dan itu sudah bagus.