Langsung ke konten
Menu

Populer

Jelajahi per topik

Terang / gelap
  1. Beranda
  2. Ramalan Hari Ini: Zodiak, Shio, Weton dan Hari Baik
  3. Wuku Sinta: pembuka siklus, cerita tentang ibu dan awal mula

Wuku Sinta: pembuka siklus, cerita tentang ibu dan awal mula

Sinta adalah wuku pertama dalam pawukon, pintu masuk bagi seluruh putaran 210 hari. Namanya menyimpan nuansa kasih seorang ibu dalam cerita lama.

Urutan1 dari 30 wukuDewa pengampuBatara Yama (menurut sebagian naskah)Citra utamaPembuka siklus, cerita tentang ibu dan awal mulaAwal pekanHari Minggu

Hari ini · Selasa, 27 Oktober 2026

Wuku Sinta

Berikutnya dimulai Minggu, 01 November 2026

Wuku ini berlaku Minggu, 01 November 2026 sampai Sabtu, 07 November 2026.

Wuku ke-1 dari 30. Siklus pawukon berulang setiap 210 hari, jadi wuku ini datang lagi mulai Minggu, 30 Mei 2027.

Wuku hari ini

Bacaan ini dihitung dari tanggal dengan aturan tradisional, untuk renungan dan hiburan, bukan ramalan.

Di artikel ini
  1. Urutan pertama dan kedudukannya
  2. Watak kelahiran menurut tutur lama
  3. Sinta dalam kisah Watugunung
  4. Kegiatan yang biasa dikaitkan
  5. Menyambung dengan keluarga di zaman sekarang

Urutan pertama dan kedudukannya

Sinta menempati urutan 1 dari 30 wuku, dan awalnya selalu jatuh pada Minggu Pahing. Setiap kali kalender pawukon mulai berputar lagi, Sintalah yang membuka jalan. Karena itu banyak orang menyebutnya wuku permulaan, tempat segala sesuatu dihitung dari nol.

Dewa pengampu yang paling sering dicatat untuk Sinta adalah Batara Yama. Sebagian naskah menuliskan nama lain, jadi anggap saja daftar ini sebagai gambaran umum, bukan angka baku. Atribut seperti pohon, burung, dan gedhong juga beragam, dan aku sengaja tidak menuliskannya supaya tidak keliru.

Watak kelahiran menurut tutur lama

Orang yang lahir pada wuku Sinta digambarkan primbon sebagai pribadi yang lembut dan penuh perhatian, mirip tokoh ibu yang menjaga rumah. Ia dikenal senang merawat, sabar mendengarkan, dan sering menjadi tempat keluarga bercerita.

Sisi lainnya, orang Sinta dikatakan mudah menyimpan beban sendiri karena tak ingin merepotkan orang lain. Tradisi menyarankan agar ia belajar meminta tolong, seperti orang yang sesekali duduk dan membiarkan tamu menyiapkan piringnya sendiri.

Sinta dalam kisah Watugunung

Dalam kisah yang melahirkan nama-nama wuku, Sinta adalah ibu dari Watugunung. Cerita itu berliku dan sarat pelajaran tentang kekeliruan yang terjadi ketika orang tak saling mengenali. Kisahnya dituturkan sebagai pengingat, bukan untuk ditiru.

Sebagian orang membaca kembali wuku ini sebagai pengingat untuk mengenali akar keluarga sendiri. Mudik saat Lebaran dan duduk bersama orang tua adalah cara modern menghormati makna yang sama.

Kegiatan yang biasa dikaitkan

Karena sifatnya sebagai permulaan, wuku Sinta kerap dipilih orang yang ingin memulai kebiasaan baru dengan tenang: menata ulang rumah, membuka buku catatan, atau mengatur anggaran bulanan. Primbon menyebut suasananya cocok bagi doa bersama keluarga.

Untuk urusan yang menuntut keberanian besar, sebagian orang tua lebih suka menunggu wuku lain. Namun itu preferensi tradisi, bukan larangan, dan kamu bebas menimbangnya sendiri.

Menyambung dengan keluarga di zaman sekarang

Kalau wuku kelahiranmu Sinta, cobalah menjadikannya alasan manis untuk menelepon ibu atau nenek. Tanyakan apa yang dulu dimasak pada hari kelahiranmu, dan siapa yang menunggu di rumah saat itu. Cerita kecil seperti ini sering lebih hangat daripada hadiah mahal.

Dan jika kamu tidak tahu wuku kelahiranmu, tidak apa-apa. Cukup tanyakan tanggal lahirmu ke orang tua, lalu hitung bersama dengan tabel di halaman utama.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah wuku Sinta selalu jatuh pada tanggal yang sama?

Tidak. Siklusnya 210 hari, jadi tanggal Masehi bergeser setiap putaran. Yang tetap hanyalah hari awalnya, yaitu Minggu Pahing.

Apakah orang Sinta pasti lembut?

Tidak ada kepastian. Itu citra umum dari primbon. Sifat nyata seseorang dibentuk pengalaman, keluarga, dan pilihannya sendiri.

Bolehkah aku merayakan ulang tahun wuku?

Boleh sekali. Sebagian keluarga Jawa memperingati kelahiran menurut wuku setiap 210 hari lewat syukuran sederhana bersama tetangga.

Bagikan halaman ini

WhatsApp Facebook Telegram X